Suriah Timur Menuju Perdamaian Abadi - Berita Pangururan

Home Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 07 Februari 2026

Suriah Timur Menuju Perdamaian Abadi


Situasi keamanan di Kota Hasakah kembali memanas meski proses implementasi kesepakatan antara pemerintah Suriah dan SDF/PKK sedang berjalan. Perkembangan di lapangan menunjukkan masih lebarnya jurang antara kesepakatan politik di level elit dan realitas keamanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.


Kementerian Pertahanan Suriah melalui Direktorat Media dan Komunikasi menyampaikan bahwa sebuah delegasi resmi telah menggelar pertemuan penting di Kota Hasakah. Delegasi tersebut dipimpin oleh Kepala Badan Operasi Angkatan Darat Arab Suriah, Brigadir Jenderal Hamza al-Humaidi.


Pertemuan itu mempertemukan pejabat Kementerian Pertahanan Suriah dengan perwakilan SDF/PKK untuk membahas mekanisme penggabungan personel bersenjata ke dalam institusi militer negara. Agenda lain yang dibahas adalah pelaksanaan sisa poin kesepakatan antara pemerintah Suriah dan SDF/PKK.


Damaskus menegaskan bahwa proses integrasi tersebut harus berlangsung dalam kerangka negara dan kedaulatan nasional. Pemerintah menyatakan tidak ada ruang bagi struktur militer paralel di luar institusi resmi negara.


Namun di lapangan, situasi justru menunjukkan eskalasi ketegangan sosial dan keamanan. Di wilayah Tal Brak, pinggiran Hasakah, warga dilaporkan menggelar aksi unjuk rasa terbuka.


Dalam aksi tersebut, masyarakat menyatakan dukungan terhadap pemerintah Suriah sekaligus mengecam tindakan kelompok bersenjata yang mereka sebut berafiliasi dengan komando Qandil. Para demonstran menilai kebijakan SDF/PKK semakin terputus dari kondisi sosial masyarakat lokal.


Pada saat yang sama, unsur SDF/PKK dilaporkan menuntut agar pasukan pemerintah Suriah menarik diri dari beberapa titik strategis di kota. Mereka juga mendorong penyebaran pasukan keamanan internal yang dikenal sebagai Asayish untuk mengambil alih kontrol penuh.


Ketegangan semakin meningkat dengan munculnya pernyataan keras dari tokoh masyarakat di wilayah al-Hol. Para tetua suku, aktivis, dan perwakilan warga mengeluarkan pernyataan bersama yang menolak pelanggaran berkelanjutan terhadap warga sipil.


Dalam pernyataan tersebut, SDF/PKK dan kelompok yang disebut sebagai pemuda revolusioner dituding bertanggung jawab atas penangkapan, intimidasi, dan pengejaran terhadap warga. Tindakan itu disebut terus berlangsung meskipun telah diumumkan gencatan senjata.


Para penandatangan pernyataan menegaskan bahwa mayoritas korban berasal dari komponen masyarakat Arab. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan munculnya konflik sosial dan etnis yang lebih luas di Hasakah.


Mereka menegaskan bahwa Provinsi Hasakah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Suriah. Segala bentuk penguasaan keamanan di luar otoritas negara dinilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional.


Warga juga mendesak agar SDF/PKK menarik diri dari wilayah-wilayah yang mayoritas penduduknya Arab. Mereka meminta pemerintah Suriah untuk mengambil peran lebih tegas dalam melindungi warga sipil dan memulihkan keamanan.


Dalam pernyataan yang sama, Amerika Serikat dan Prancis turut disorot. Kedua negara diminta bertanggung jawab menghentikan pelanggaran, mengingat peran mereka sebagai pihak penjamin kesepakatan antara Damaskus dan SDF/PKK.


Situasi semakin tegang setelah beredar laporan insiden kekerasan serius di dalam kota. Seorang penjual bensin dilaporkan dieksekusi di sekitar Bundaran Listrik, kawasan Hay al-Nashwa, yang berada di bawah kendali SDF/PKK.


Insiden tersebut memicu kemarahan luas di kalangan warga Hasakah dan wilayah sekitarnya. Banyak pihak menilai kejadian itu sebagai bukti nyata lemahnya keamanan dan absennya perlindungan terhadap warga sipil.


Gelombang kemarahan juga muncul dari Raqqa, yang dinilai mengalami dinamika serupa. Seruan penolakan terhadap praktik penindasan dan penghinaan kembali menggema di dua kota utama Suriah timur itu.


Nada kritik kali ini dinilai berbeda dari periode sebelumnya. Jika pada masa lalu kemarahan publik sering diarahkan pada simbol kekuasaan lama, kini sorotan tajam justru diarahkan pada dominasi dan kebijakan SDF/PKK.


Isu kepemimpinan lokal turut menjadi perhatian. Sejumlah warga mempertanyakan penunjukan pejabat yang dianggap memiliki rekam jejak buruk, namun tetap diberi wewenang atas Hasakah.


Di tengah situasi yang rapuh ini, laporan terbaru menyebut adanya upaya provokasi oleh unsur dan simpatisan SDF/PKK. Mereka dilaporkan mencoba memancing ketegangan dengan aparat keamanan umum Suriah di sekitar Bundaran Sinalco.


Aksi saling provokasi tersebut meningkatkan risiko bentrokan langsung di pusat kota. Aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah meluasnya kekerasan.


Seluruh rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa kesepakatan antara Damaskus dan SDF/PKK masih berada dalam tahap yang sangat rapuh. Implementasi di lapangan belum sepenuhnya mampu meredam ketegangan politik dan sosial.


Hasakah kini menjadi batu ujian penting bagi masa depan stabilitas Suriah timur laut. Keberhasilan atau kegagalan pengelolaan situasi di wilayah ini akan menentukan arah rekonsiliasi, integrasi militer, dan kepercayaan publik terhadap proses damai ke depan.


Baca selanjutnya

Tidak ada komentar:

Post Top Ad